Asal-usul Musik
Telusuri jejak musik dari alat purba hingga sistem tangga nada awal.
8 menit baca
Salah satu alat musik tertua yang pernah ditemukan adalah suling dari tulang sayap burung nasar. Suling ini ditemukan di gua Hohle Fels, Jerman selatan, dan diperkirakan berusia sekitar 40.000 tahun.
Yang membuatnya penting bukan sekadar umurnya, tapi lubang-lubangnya. Lubang itu ditempatkan dengan jarak tertentu — artinya pembuatnya tidak sekadar meniup tulang berongga. Ia sudah memilih nada mana yang ingin ia hasilkan.
Musik mungkin lebih tua dari alat musik
Suara manusia tidak meninggalkan fosil. Begitu juga tepukan tangan, hentakan kaki, dan pukulan pada batang kayu. Maka empat puluh ribu tahun adalah batas bukti yang terawetkan, bukan batas usia musik itu sendiri.
Setiap kebudayaan manusia yang pernah didokumentasikan memiliki musik. Tidak ada pengecualian. Bersama bahasa dan api, musik termasuk hal yang tampaknya selalu kita bawa.
Nada pertama yang disepakati
Sekitar 2.500 tahun lalu, sebuah pengamatan sederhana mengubah segalanya: senar yang panjangnya dipotong separuh menghasilkan nada yang terdengar "sama", hanya lebih tinggi.
Penemuan ini biasanya dikaitkan dengan Pythagoras, meski bukti sejarahnya kabur dan pengamatan serupa muncul di Tiongkok dan Mesopotamia pada masa yang berdekatan. Perbandingan 2:1 itu adalah oktaf.
Dari situ muncul pertanyaan lanjutan: bagaimana kalau dipotong dua pertiga? Hasilnya perbandingan 3:2 — yang kita sebut kuint murni. Menumpuk kuint demi kuint akhirnya menghasilkan dua belas nada yang masih kita pakai hari ini.
Masalah yang tak pernah benar-benar selesai
Ada satu ganjalan. Menumpuk dua belas kuint murni tidak kembali persis ke nada awal. Meleset sedikit — selisih yang disebut koma Pythagoras.
Kedengarannya sepele, tapi akibatnya besar: alat musik yang disetel sempurna untuk satu nada dasar akan terdengar sumbang di nada dasar lain. Selama berabad-abad, musisi Eropa menyiasatinya dengan berbagai sistem penyeteman, masing-masing dengan kompromi sendiri.
Jalan keluar yang akhirnya menang adalah temperamen sama rata: bagi oktaf menjadi dua belas bagian yang persis sama, dan terima kenyataan bahwa hampir semua interval jadi sedikit meleset dari perbandingan idealnya.
Itulah penyeteman gitar dan piano modern. Setiap akor yang kamu mainkan sebenarnya sedikit "salah" menurut matematika murni — dan justru kompromi itu yang membuatnya bisa dimainkan di semua nada dasar.
Bukan satu-satunya jalan
Perlu dicatat: cerita di atas adalah cerita musik Barat. Banyak kebudayaan lain menempuh jalan yang sama sekali berbeda dan tidak kalah canggih.
Musik Arab memakai maqam dengan interval yang lebih kecil dari semitone. Musik India membagi oktaf menjadi shruti. Gamelan Jawa dan Bali memakai laras slendro dan pelog, yang tidak bisa dipetakan ke dua belas nada mana pun.
Semuanya sah. Dua belas nada hanyalah satu jawaban di antara banyak jawaban atas pertanyaan yang sama: dari sekian banyak bunyi yang mungkin, mana yang kita pilih?
Masuk untuk menandai materi ini sebagai selesai.
Komentar
Masuk untuk membaca dan menulis komentar.