Lompat ke konten

Gamelan Nusantara

Kenali laras slendro, pelog, dan cara gamelan membangun warna bunyinya sendiri.

10 menit baca

Jika gamelan diperiksa dengan tuner gitar, banyak nadanya tidak akan cocok dengan standar nada Barat. Bukan berarti gamelannya sumbang. Gamelan memang memakai sistem laras yang berbeda.

Slendro dan pelog

Gamelan Jawa dan Bali umumnya memakai dua laras:

Slendro membagi oktaf menjadi lima nada dengan jarak yang relatif merata. Bunyinya terbuka dan mengalir, tanpa nada yang terasa "menuntut diselesaikan" seperti nada tuntun dalam musik Barat.

Pelog memakai tujuh nada dengan jarak yang sengaja tidak merata — sebagian berdekatan, sebagian berjauhan. Dari tujuh nada itu biasanya hanya lima yang dipakai dalam satu gending, lewat pemilihan yang disebut pathet.

Tidak ada satu pun dari nada-nada ini yang cocok dengan piano.

Tiap gamelan punya nada sendiri

Ini bagian yang paling asing bagi telinga yang terbiasa musik Barat: tidak ada standar frekuensi untuk gamelan.

Satu perangkat gamelan disetel sebagai satu kesatuan, oleh pembuatnya, menurut rasa dan tradisi. Perangkat dari satu keraton akan berbeda dari perangkat keraton lain — dan itu bukan kesalahan, melainkan identitas.

Akibatnya, dua perangkat gamelan tidak dapat dimainkan bersama. Masing-masing adalah satu instrumen besar yang utuh, bukan kumpulan alat yang bisa ditukar.

Bandingkan dengan orkestra Barat yang seluruh anggotanya menyetel ke A = 440 Hz supaya alat mana pun bisa bergabung dengan alat mana pun. Dua filosofi yang berlawanan: satu mengejar keseragaman, satu merawat kekhasan.

Ombak yang disengaja

Pada banyak gamelan, alat dibuat berpasangan dan sengaja disetel sedikit berbeda.

Dua nada yang nyaris sama tapi tidak persis akan menghasilkan getaran pelan yang naik-turun — dalam akustika disebut beating. Di gamelan, efek ini justru diburu. Orang Bali menyebutnya ombak.

Itulah sumber gemerincing khas yang seolah bernapas dan tidak pernah benar-benar diam. Dalam kerangka musik Barat, dua nada seperti itu akan langsung disebut fals dan segera diperbaiki.

Musik yang melingkar, bukan berjalan

Musik Barat umumnya bergerak menuju tujuan: tegangan dibangun, lalu diselesaikan. Gending gamelan bekerja dengan cara lain.

Struktur gamelan berlapis dan melingkar. Melodi inti berjalan lambat, dan instrumen lain menghiasinya dengan kerapatan berbeda-beda di atas siklus yang sama. Gong besar menandai batas siklus — bukan akhir cerita, melainkan putaran berikutnya.

Waktu terasa berputar, bukan maju.

Pengaruh yang berbalik arah

Pada Pameran Dunia 1889 di Paris, seorang komponis muda bernama Claude Debussy mendengar gamelan Jawa untuk pertama kalinya. Ia terguncang.

Karya-karyanya setelah itu mulai melonggarkan cengkeraman harmoni fungsional Eropa: tangga nada yang tidak menuntut penyelesaian, tekstur berlapis, waktu yang mengambang. Melalui Debussy, cara mendengar Nusantara ikut membentuk musik klasik modern Eropa.

Gamelan bukan pendahulu musik Barat, dan bukan pula turunannya. Ia jawaban lain yang sepenuhnya berdiri sendiri — dan cukup kuat untuk mengubah arah musik di belahan dunia lain.

Sarankan perbaikan materi ini

Masuk untuk menandai materi ini sebagai selesai.

Komentar

Masuk untuk membaca dan menulis komentar.