Blues dan Jazz
Pelajari akar blues, lahirnya jazz, dan perubahan cara musisi memainkan ritme serta akor.
12 menit baca
Akan lebih mudah jika kamu membaca: Pentatonik dan Blues, Akor Septim
Dalam harmoni klasik, akor septim dominan dianggap tegang dan biasanya segera diselesaikan ke akor berikutnya. Blues kemudian memakai bunyi tegang itu dengan cara yang berbeda.
Dalam blues, hampir semua akornya adalah akor septim dominan, dan tidak ada satu pun yang diselesaikan.
Akor C7
Aturan itu tidak dilanggar karena tidak diketahui. Ia tidak berlaku, karena musiknya tidak tumbuh dari sana.
Dari mana ia datang
Blues lahir di selatan Amerika Serikat pada akhir abad ke-19, di kalangan orang kulit hitam keturunan budak. Akarnya adalah nyanyian kerja, lagu rohani, dan teriakan sahut-menyahut di ladang — praktik yang bertahan dari Afrika Barat melewati perbudakan.
Ini penting dan tidak boleh dilewatkan: blues bukan cabang musik Eropa yang menyimpang. Ia hasil pertemuan dua tradisi yang berbeda asal, di bawah keadaan yang brutal, dan yang bertahan dari sisi Afrika bukan nada-nadanya melainkan cara memperlakukan bunyi — nada yang dibengkokkan, ritme yang bertumpuk, suara yang boleh serak dan kotor.
Kerangka dua belas birama
Bentuk yang akhirnya mengeras adalah blues dua belas birama: putaran dua belas birama dengan akor I, IV, dan V pada urutan yang tetap.
Empat birama pertama di akor I. Dua birama IV, dua birama kembali ke I. Lalu V, IV, dan pulang ke I.
Kerangkanya sangat sederhana, dan justru itu kekuatannya. Dua orang yang belum pernah bertemu bisa langsung bermain bersama begitu satu menyebut nada dasarnya. Bentuk yang longgar cukup untuk diisi apa saja — dan akan diisi oleh hampir seluruh musik populer sesudahnya.
Lirik ikut punya pola: satu baris, baris itu diulang, lalu baris yang menjawab. Bentuk yang memberi penyanyi waktu untuk menyusun kalimat ketiganya sambil mengulang yang pertama.
Nada yang tidak ada di piano
Blues memakai nada yang dibengkokkan — di antara nada mayor dan minor, tidak tepat di keduanya. Di gitar, nada itu didapat dengan menarik senar. Dengan suara, dengan meluncur.
Nada-nada itu tidak bisa ditulis dengan tepat memakai not balok, dan tidak bisa dimainkan di piano. Yang kamu kenal sebagai blue note pada tangga nada pentatonik adalah perkiraan terdekat yang bisa dijangkau alat musik bertingkat tetap.
Sekali lagi pola yang sama muncul: sistem yang dibangun untuk satu tradisi tidak bisa menampung tradisi lain sepenuhnya. Sama seperti tuner gitar yang gagal membaca gamelan.
Ragtime merapikan sinkopasi
Pada akhir abad ke-19, ragtime membawa ritme tersinkopasi ke dalam karya piano yang ditulis dan diterbitkan. Tangan kiri menjaga pola bas serta akor yang teratur, sementara tangan kanan menaruh aksen di antara denyut yang diperkirakan.
Ragtime bukan jazz awal dalam bentuk sederhana. Musik ini lebih sering mengikuti komposisi tetap daripada improvisasi kelompok. Namun penyebarannya membantu membiasakan pendengar dengan sinkopasi dan menunjukkan bahwa ritme Afrika-Amerika dapat membentuk musik populer perkotaan serta industri penerbitan.
Ketika ragtime, blues, tradisi brass band, nyanyian gereja, dan banyak praktik lokal bertemu di New Orleans, tersedia bahan untuk cara bermain baru. Jazz lahir dari pertemuan itu, bukan dari satu genre tunggal.
Jazz mengambil alih harmoni
Dari New Orleans awal abad ke-20, jazz tumbuh dengan meminjam kerangka blues lalu menumpuk kerumitan di atasnya.
Ritmenya bergerak dengan swing: ketukan dibagi dua tapi tidak sama panjang, yang pertama lebih lama. Perbandingannya tidak pernah pasti — berubah menurut tempo, menurut pemain, menurut malam itu. Ia tidak ditulis di partitur karena tidak bisa. Ia dipelajari dengan mendengar.
Kemudian harmoninya dirombak. Akor tidak berhenti di septim: ditumpuk terus ke nada kesembilan, kesebelas, ketiga belas. Akor disisipkan di antara akor. Nada dasar berpindah cepat.
Bebop pada 1940-an mendorongnya paling jauh — tempo sangat cepat, akor berubah hampir tiap birama, dan improvisasi yang menuntut penguasaan penuh atas seluruh papan.
Yang terjadi di sini menarik: teori harmoni yang disusun di Eropa dipakai sebagai bahan mentah, oleh musisi yang sebagian besar tidak dididik di dalamnya, untuk tujuan yang sama sekali berbeda. Bukan warisan, melainkan pengambilalihan.
Warisan yang kamu pegang
Hampir semua yang kamu pakai di gitar hari ini lewat dari sini.
Akor septim yang berdiri sendiri tanpa diselesaikan. Pentatonik sebagai bahasa solo. Improvisasi di atas putaran akor yang berulang. Gagasan bahwa lembar musik cukup berisi akor, dan sisanya urusan pemain.
Dan satu hal lagi: swing, ketika dilempar ke tempo cepat dengan tekanan dipindahkan ke tempat lain, akan melahirkan sesuatu yang lebih keras.
Masuk untuk menandai materi ini sebagai selesai.
Komentar
Masuk untuk membaca dan menulis komentar.