Era Romantik
Ikuti perubahan musik saat emosi, warna harmoni, dan pemain virtuoso jadi pusat perhatian.
10 menit baca
Akan lebih mudah jika kamu membaca: Era Klasik, Modulasi
Prelude pembuka Tristan und Isolde karya Wagner menahan penyelesaian harmoni selama beberapa menit. Ketegangan yang terus ditunda ini bukan kesalahan, melainkan bagian utama dari ekspresinya.
Merentangkan sampai nyaris putus
Era Romantik, kira-kira 1820 sampai 1900, mewarisi seluruh perkakas era Klasik lalu mendorongnya sejauh mungkin.
Alat utamanya adalah kromatisisme: memakai nada di luar tangga nada bukan sebagai hiasan sesekali, melainkan terus-menerus. Akor mulai mengandung nada yang tidak dimiliki nada dasar mana pun secara jelas.
Akibatnya pusat gravitasi jadi kabur. Pendengar tidak lagi yakin sedang berada di nada dasar apa — dan ketidakpastian itulah yang diburu.
Modulasi pun berubah fungsi. Di era Klasik ia adalah perjalanan pergi dan pulang yang jelas. Di era Romantik, perpindahan terjadi begitu sering dan begitu jauh sehingga "rumah" hampir kehilangan arti.
Satu abad kemudian, jalan ini sampai ke ujungnya: sebagian komponis melepaskan nada dasar sama sekali.
Yang pribadi jadi pantas ditulis
Musik Barok banyak ditulis untuk gereja dan istana. Musik Klasik untuk ruang konser dan penonton yang membeli tiket.
Musik Romantik menambahkan satu bahan baru: isi kepala komponisnya. Kesedihan, kerinduan, kenangan, tanah kelahiran. Judul mulai menunjuk ke suatu hal di luar musik — puisi, tokoh, pemandangan.
Ukuran karya pun terbelah ke dua arah sekaligus. Simfoni membengkak sampai lebih dari satu jam dengan orkestra jauh lebih besar. Pada saat yang sama muncul karya-karya piano yang sangat pendek — dua menit, satu suasana, selesai.
Keduanya berangkat dari alasan yang sama: karya harus sepanjang yang dituntut perasaannya, bukan sepanjang yang dituntut bentuknya.
Pemain jadi bintang
Di sinilah sosok virtuoso lahir dalam bentuknya yang kita kenal.
Niccolò Paganini bermain biola dengan kemampuan yang membuat orang menyebarkan desas-desus bahwa ia berjanji pada setan. Franz Liszt bermain piano di hadapan penonton yang menjerit dan berebut sapu tangannya — perilaku yang seratus tahun kemudian akan disebut histeria penggemar.
Perhatikan pergeserannya. Sebelum ini, yang datang ke konser datang untuk mendengar karya. Sejak ini, sebagian datang untuk menonton orang tertentu memainkannya.
Gagasan bahwa pemain adalah bintang — kultus gitaris, solo yang ditunggu-tunggu, nama di atas judul lagu — bermula di ruang konser abad ke-19.
Piano di setiap ruang tamu
Ada sebab yang lebih membosankan di balik semua ini: produksi massal.
Piano menjadi cukup murah untuk keluarga kelas menengah. Percetakan partitur menjadi industri. Jutaan orang yang bukan musisi profesional membeli lembaran musik dan memainkannya sendiri di rumah.
Pasar itu mengubah apa yang ditulis. Karya piano pendek yang bisa diselesaikan pemain amatir laku keras, dan komponis menulisnya.
Dan kemudian mentok
Menjelang 1900, jalan ini menabrak batasnya sendiri.
Kalau setiap nada bisa dipakai kapan saja, tidak ada lagi nada yang mengejutkan. Kalau ketegangan tidak pernah diselesaikan, ia berhenti terasa sebagai ketegangan.
Beberapa komponis menjawabnya dengan meninggalkan nada dasar sepenuhnya. Sebagian lain, seperti Debussy, mencari jalan keluar ke arah yang berbeda — dan salah satu petunjuknya ia dengar dari gamelan Jawa di Paris, 1889.
Dan di seberang samudra, tanpa ada hubungannya dengan kebuntuan ini sama sekali, sesuatu yang lain sedang tumbuh di selatan Amerika Serikat.
Masuk untuk menandai materi ini sebagai selesai.
Komentar
Masuk untuk membaca dan menulis komentar.