Lompat ke konten

Musik Abad ke-20

Ikuti pecahnya satu bahasa musik menjadi impresionisme, atonalitas, serialisme, dan minimalisme.

12 menit baca

Akan lebih mudah jika kamu membaca: Era Romantik

Abad ke-20 tidak melahirkan satu gaya pengganti era Romantik. Ia justru memecah bahasa musik menjadi banyak jalan. Sebagian komponis mencari warna baru di dalam sistem tonal, sementara yang lain meninggalkan pusat nada sama sekali. Rekaman, kota modern, perang, dan perjumpaan lintas budaya membuat perubahan itu bergerak lebih cepat daripada sebelumnya.

Warna sebelum aturan

Pada akhir abad ke-19, harmoni Romantik sudah sangat kromatis. Claude Debussy dan komponis lain lalu memperlakukan akor bukan hanya sebagai langkah menuju akor berikutnya, tetapi sebagai warna yang dapat dinikmati pada saat itu juga.

Tangga nada utuh, pentatonik, modus, dan gerak paralel menghasilkan kesan yang tidak selalu ingin segera selesai. Sebutan impresionisme sering dipakai untuk musik ini, walau Debussy sendiri tidak menyukai label tersebut.

Ketika pusat nada dilepas

Arnold Schoenberg dan lingkarannya mendorong kromatisisme lebih jauh. Jika dua belas nada dipakai tanpa satu nada terasa sebagai rumah, musiknya disebut atonal. Pendengar tidak lagi dapat mengandalkan pola dominan menuju tonika.

Schoenberg kemudian menyusun teknik dua belas nada. Semua kelas nada diatur dalam sebuah deret sebelum diolah melalui pembalikan, pembacaan mundur, dan transposisi. Serialisme setelahnya menerapkan gagasan pengaturan itu pada unsur lain seperti ritme dan dinamika.

Ritme dan bunyi ikut berubah

Perubahan tidak hanya terjadi pada harmoni. Igor Stravinsky memakai aksen yang bergeser, lapisan pola berbeda, dan warna orkestra yang tajam. Komponis lain memasukkan bunyi mesin, perkusi yang lebih luas, atau teknik memainkan instrumen dengan cara yang sebelumnya dianggap tidak lazim.

Pada saat yang sama, jazz dan tradisi di luar Eropa memengaruhi cara komponis memikirkan ritme, timbre, dan bentuk. Pengaruh ini kadang lahir dari pertukaran yang setara, tetapi kadang juga mengambil bunyi tanpa memahami masyarakat asalnya.

Kembali pada pola sederhana

Pada 1960-an, sebagian komponis menolak kerumitan serialisme. Minimalisme memakai pola pendek, denyut tetap, dan perubahan kecil yang berlangsung lama. Alih-alih mengikuti cerita harmoni yang penuh belokan, pendengar diajak memperhatikan bagaimana satu pola perlahan berubah di dalam pengulangan.

Gagasan minimalis kemudian masuk ke film, elektronik, rock, dan musik populer. Warisan utama abad ke-20 bukan satu gaya tertentu, melainkan kebebasan untuk memilih bahan: pusat nada boleh dipakai atau ditinggalkan, suara bising boleh menjadi musik, dan pengulangan sederhana dapat sama pentingnya dengan bentuk besar.

Sarankan perbaikan materi ini

Masuk untuk menandai materi ini sebagai selesai.

Komentar

Masuk untuk membaca dan menulis komentar.