Lompat ke konten

Ritme dan Birama

Pahami ketukan, tempo, aksen, dan cara membaca tanda birama.

11 menit baca

Nada menentukan bunyi yang dimainkan, sedangkan ritme menentukan waktunya. Coba tepuk pola lagu yang kamu hafal tanpa menyanyikan nadanya. Biasanya lagu itu masih mudah dikenali.

Mulai dengan merasakan ketukan

Nyalakan metronom ini. Ikuti dengan ketukan kaki sampai terasa otomatis, lalu baca terus sambil dibiarkan jalan:

Metronom berhenti

90

ketukan per menit

Perhatikan ketukan pertama tiap kelompok ditandai berbeda. Itu bukan hiasan — di situlah letak seluruh materi ini.

Ketukan dan tempo

Ketukan adalah denyut tetap yang barusan kamu ikuti. Tempo adalah kecepatannya, diukur dalam BPM — ketukan per menit. 60 BPM berarti satu ketukan per detik.

Angka tempo terasa abstrak sampai dipasangkan dengan sesuatu: 60 BPM kira-kira jantung saat istirahat, 120 BPM kira-kira langkah kaki berjalan cepat. Sebagian besar musik populer duduk di antara 90 dan 130.

Birama

Ketukan dikelompokkan, dan kelompok itu bernama birama. Angka di awal partitur — 4/4, 3/4, 6/8 — memberi tahu dua hal: berapa ketukan per birama, dan not apa yang dihitung sebagai satu ketukan.

4/4 — empat ketukan. Hampir semua musik populer. Begitu umum sampai ditandai huruf C di partitur lama.

3/4 — tiga ketukan. Waltz. Coba ubah metronom di atas ke 3 ketukan per birama dan dengarkan bagaimana rasanya jadi berputar, bukan berbaris.

6/8 — enam ketukan cepat yang terasa sebagai dua kelompok bertiga. Mengayun. Banyak lagu balada dan musik Irlandia.

Ketukan pertama tiap birama terasa lebih berat. Itu bukan aturan tertulis; telinga yang memberinya aksen, dan metronom cuma mengikuti kecenderungan itu.

Nilai not

Satu not penuh dibagi dua jadi not setengah, dibagi dua lagi jadi not seperempat, lalu seperdelapan, seperenambelas. Di 4/4, satu not seperempat sama dengan satu ketukan.

Karena pembagiannya selalu dua, not bertitik ada untuk menambal: titik menambahkan setengah dari nilai notnya sendiri. Not seperempat bertitik sama dengan satu setengah ketukan — dan pola satu setengah itu yang mendasari banyak riff yang terasa berayun.

Sinkopasi

Aksen yang jatuh di luar ketukan utama.

Set metronom ke tempo pelan, sekitar 70 BPM. Petik akor tepat di ketukan beberapa kali. Lalu coba petik tepat di antara dua ketukan, dan tahan bunyinya sampai ketukan berikutnya lewat.

Akor C

E
B
G
D
A
E

Nada yang sama, kesan yang sama sekali berbeda. Yang kedua terdengar bergoyang; yang pertama terdengar berbaris.

Sebagian besar musik yang terasa hidup — funk, reggae, dangdut, hampir semua gitar ritem pop — hidup justru karena tidak tepat di ketukan. Ketukan tetap ada sebagai kerangka; yang dimainkan sengaja meleset darinya.

Kenapa berlatih dengan metronom terasa sulit

Karena metronom tidak menyesuaikan diri. Bermain sendirian, tempo kita ikut melambat di bagian yang sulit tanpa disadari — dan bagian yang sulit itulah yang sebenarnya belum dikuasai.

Metronom membuat kelambatan itu terdengar. Tidak menyenangkan, tapi itulah gunanya.

Sarankan perbaikan materi ini

Masuk untuk menandai materi ini sebagai selesai.

Komentar

Masuk untuk membaca dan menulis komentar.